PEMBAJAKAN SOFTWARE SEMAKIN MERAJALELA….

MICHAEL A. MIRABITO CHAPTER 4 – COMPUTER TECHNOLOGY: LEGAL ISSUES, Y2K, AND ARTIFICIAL INTELLIGENCE


Pendahuluan

Saat ini kebutuhan akan teknologi, baik itu teknologi informasi maupun telekomunikasi sangat tinggi dari mulai golongan menengah kebawah dan golongan menengah ke atas. Semua individu sangat membutuhkan teknologi untuk mempercepat perkembangan atau meningkatkan pembangunan baik pembangunan individu maupun kelompok. Perkembangan teknologi yang saat ini sangat cepat adalah teknologi telekomunikasi, yang menghadirkan beragam pilihan bentuk teknologi dan kecanggihannya. Namun dibalik itu semua selain dampak positif yang diberikan oleh teknologi modern tersebut, ternyata perkembangan teknologi juga memberikan dampak negatif bagi kehidupan sekarang ini.

Dampak negatif yang timbul dari adanya sejumlah kesempatan yang ada membuat permasalahan – permasalahan hukum yang berkaitan dengan perkembangan teknologi. Hal yang sudah tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi tersebut adalah kasus pembajakan perangkat lunak (software piracy). Pembajakan Software ini terhitung sebagai tindakan kriminal karena merupakan pencurian terhadap kekayaan intelektual.

Pembajakan Software di Indonesia

Bagaimanakah pembajakan software di Indonesia? tercatat hasil kurang menggembirakan untuk urusan pembajakan software di Indonesia. Dari hasil riset yang dikeluarkan IDC terungkap bahwa aktivitas pembajakan software di Tanah Air justru kian melonjak. Dari riset itu Indonesia ditempatkan di posisi ke-12 sebagai negara dengan tingkat pembajakan software terbesar di dunia. Presentase yang dicatat adalah 85%. Dengan kata lain, jika diibaratkan ada 100 software yang digunakan maka 85 di antaranya merupakan software ilegal. Penilaian ini sendiri dilakukan sepanjang 2008 dan baru diumumkan pada bulan Mei 2009. Ini merupakan kegiatan rutin tiap tahun besutan Business Software Alliance (BSA) yang bekerja sama dengan lembaga riset IDC. Tentu presentase 85% itu merupakan prestasi minor bagi Indonesia. Sebab selama dua tahun sebelumnya, Indonesia mencatat hasil lumayan dengan mampu menurunkan presentase pembajakan tersebut, meski hanya turun 1%.

Menurut data yang dirilis IDC, persentase 85% ini mengakibatkan Indonesia ditaksir mengalami kerugian atau potensial loss sebesar US$ 544 juta. Jumlah itu melonjak drastis jika dibandingkan tahun 2007 dimana tingkat pembajakan di Indonesia mencapai 84 persen dan tingkat kerugiannya ditaksir US$ 411 juta. Studi ini sendiri dilakukan terhadap 110 negara di berbagai belahan dunia. Dimana 57 negara di antaranya mengalami penurunan, 36 negara tetap, sementara 16 negara mengalami peningkatan.

Adapun bentuk-bentuk pelanggaran atas suatu software dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu : Pemuatan ke dalam hard disk. Perbuatan ini biasanya dilakukan jika kita membeli komputer dari toko-toko komputer, di mana penjual biasanya meng-instal sistem operasi beserta software-software lainnya sebagai bonus kepada pembeli komputer.

Softlifting, yaitu dimana sebuah lisensi penggunakan sebuah software dipakai melebihi kapasitas penggunaannya. Misalnya membeli satu software secara resmi tapi kemudian meng-install-nya di sejumlah komouter melebihi jumlah lisensi untuk meng-install yang diberikan.

Pemalsuan, yaitu memproduksi serta menjual software-software bajakan biasanya dalam bentuk CD ROM, yang banyak dijumpai di toko buku atau pusat-pusat perbelanjaan, Penyewaan software, Ilegal downloading, yakni dengan men-download software dari internet secara illegal

Mengapa Terjadi Pembajakan?

Ada banyak faktor-faktor yang mendukung terjadinya pembajakan software. Software adalah produk digital yang dengan mudah dapat digandakan tanpa mengurangi kualitas produknya, sehingga produk hasil bajakan akan berfungsi sama seperti software yang asli.

Selain itu, tidak disangkal lagi, satu hal yang mendukung maraknya pembajakan atas software adalah mahalnya harga lisensi software yang asli. Untuk perbandingan, harga lisensi Windows 98 adalah 200 dolar AS, sedangkan software bajakan dapat kita beli hanya dengan harga Rp. 10.000 saja. Andaikata di sebuah kantor mempunyai 20 buah komputer yang menggunakan windows 98, maka biaya yang harus dikeluarkan sebesar 4000 dolar AS atau senilai hampir 40 juta rupiah. Itu hanya untuk sistem operasinya saja, belum termasuk program-program aplikasi lainnya.

Penegakan Hukum Atas Pembajakan Software Komputer

Penegakan hukum atas pembajakan software memang telah dilakukan. Pada bulan September 2001, Microsoft dinyatakan menang dalam kasus pembajakan software dan majelis hakim menghukum PT. Kusumo Megah untuk membayar ganti rugi sebesar 4,4 juta dolar AS. Keputusan ini bagi pihak produsen software dianggap sebagai kemenangan besar melawan pembajakan software di Indonesia sehingga diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang menghargai inovasi dan diharpkan dapat membangkitkan industri software lokal. Pada bulan Oktober tahun yang sama, Microsoft kembali memenangkan perkara yang sama, di mana tergugat yaitu empat penjual computer yaitu PT. Panca Putra Komputindo, HJ Komputer, HM Komputer dan Altex Komputer dihukum untuk membayar ganti rugi sebesar 4,7 juta dollar AS karena terbukti bersalah karena telah meng-install software Microsoft Windows dan Office pada komputer yang mereka jual.

Penegakan hukum di bidang pembajakan software ini memang mempunyai dampak yang baik karena dapat memperbaiki citra Indonesia di mata dunia internasional sehingga dapat meningkatkan investasi asing di bidang software di Indonesia, selain itu bagi pelaku industri software di Indonesia sendiri hal ini dapat membangkitkan semangat mereka untuk lebih berkreasi menghasilkan software-software baru yang mempunyai daya saing yang tinggi, karena tidak takut lagi kalau hasil karyanya akan dibajak oleh orang lain untuk mendapatkan keuntungan ekonomis.

Meskipun edukasi dalam Gerakan Sadar HKI telah dilakukan, akan tetapi menurut penulis, sepertinya hal tersebut tidak akan dapat berjalan dengan baik, pembajakan software sepertinya akan sulit untuk diberantas. Faktor yang paling dominan adalah faktor ekonomis, dimana orang akan cenderung memilih software bajakan yang pasti jauh lebih murah dari software yang berlisensi.

Selain itu pembajakan masih akan tetap berlansung karena bagaimana mungkin para penegak hukum dapat memberantas hal ini jikalau mereka sendiri pada kenyataannya masih menggunakan software bajakan baik di komputer-komputer di kantor polisi, kejaksaan maupun pengadilan, yang dipergunakan untuk keperluan dinas maupun di komputer-komputer pribadi mereka. Jika aparat penegak hukum berkeinginan untuk menegakkan hukum di bidang ini, maka secara tidak langsung mereka harus menuntut dirinya sendiri karena turut pula melakukan pelanggaran. Menurut penulis hal ini tidaklah mungkin, karena itulah sampai dengan saat ini penulis berkeyakinan bahwa permasalahan ini tidak akan pernah berakhir, paling tidak sampai dengan saat di mana semua software yang dipakai oleh aparat penegak hukum terlah berlisensi

Tentang Y2K

Y2K, yang pada tahun 2000 disebut sebagai Millenium Bug, adalah singkatan dari Year 2 Kilo yang artinya tahun 2000. Nah, apanya sih yang aneh dari tahun 2000 lalu? Toh saat itu nggak kiamat kan?

Y2K sendiri adalah kesalahan perhitungan oleh komputer yang disebabkan oleh sistem penyimpanan tanggal yang hanya menyediakan dua digit untuk tahun, dengan asumsi bahwa kedua digit pertama adalah “19″. Sistem ini diterapkan sekitar tahun 60-an dengan tujuan menghemat biaya penyimpanan. Contoh: kalau misalkan tahun 1998, di komputer akan ditulis 98 saja. Kalau 1999, ditulis di komputer 99 saja.

Nah, kalau tahun 2000 gimana? Tentunya akan tertulis 00. Inilah yang menjadi kekhawatiran, karena dalam komputer yang menggunakan chip dengan sistem di atas, 00 dianggap sebagai tahun 1900 (wah, balik satu abad dong..)

Kesalahan ini dikhawatirkan akan menyebabkan bencana besar karena komputer juga digunakan untuk mengatur fasilitas-fasilitas penting seperti PLTN dan pesawat terbang. Sebagai akibatnya banyak perusahaan di seluruh dunia mengadakan pembaharuan di bidang komputer, baik perangkat lunak maupun perangkat keras untuk mencegah hal ini. Walaupun kemudian terbukti bahwa tidak ada bencana besar yang memakan korban jiwa, Y2K menyebabkan cukup banyak kesalahan, misalnya kartu kredit yang ditolak karena masa berlakunya habis tahun 2000, tapi dibaca komputer sebagai 1900.

SEKARANG JAMANNYA DIGITAL AUDIO

August. E. G & Jennifer. H.M.  (2008). Communication Technology Update and Fundamental.  11th Edition.  Focal Press.  Boston.   ISBN: 978-0-240-81062-1.

Merebaknya perkembangan teknologi ternyata sangat berdampak pada dunia musik. Bagaimana tidak? Dengan berkembangnya teknologi seperti adanya internet, hal tersebut memudahkan kita melakukan segala-galanya, termasuk memudahkan pencarian musik/lagu yang kita inginkan dengan mengetikkan keyword pada website tertentu, untuk mendownload lagu yang kita inginkan secara gratis tanpa harus mengeluarkan uang untuk membeli CD dan kaset. Karenanya perusahaan rekaman sekarang ini lebih memilih untuk berjualan Digital Audio, walaupun beberapa perusahan rekaman tersebut tetap mempertahankan untuk menjual CD original , namun ada pula yang terbukti gulung tikar karena berusaha mempertahankan sistemnya berjualan CD dan kaset hanya pada toko-toko.

Tak perlu diragukan lagi perusahaan yang sempat gulung tikar tersebut adalah Aquarius Musik, sebuah ritel perusahaan musik yang berlokasi di Pondok Indah harus menutup usahanya yang dirintis sejak tahun 1995. ondisi ini sangat ironis mengingat pada era 90-an, retail ini tidak pernah sepi pengunjung. Berbagai kaset dan CD dari berbagai macam genre musik pun bisa didapatkan di toko tersebut. Bahkan ritel Aquarius bisa dibilang menjadi semacam ikon dan barometer bagi kebangkitan industri musik saat itu.

Ritel CD Aquarius Pondok Indah bukanlah ritel yang pertama yang gulung tikar. Ratusan ritel kaset dan CD di Indonesia telah tutup selama dua tahun terakhir ini. Salah satunya bahkan sebuah toko yang telah puluhan tahun beroperasi dan menjadi ikon Bandung sebagai kota barometer musik yaitu Aquarius yang terletak di Jalan Dago. Sejak Desember 2009, Aquarius Dago resmi ditutup. Kondisi terpuruk itu tidak hanya dialami Aquarius. Beberapa ritel kaset di mal-mal yang ada di Kota Bandung terpaksa gulung tikar. Menurut Meidi Ferialdi, Marketing Manager Aquarius Musikindo, semakin tingginya harga sewa tempat di sana membuat pihaknya tidak bisa berkompromi lagi dengan biaya yang harus dikeluarkan setiap tahunnya. Ia menjanjikan toko Aquarius akan dibuka kembali di Bandung di tempat yang berbeda, entah kapan tepatnya. Kemerosotan penjualan musik dalam kemasan berbentuk fisik terjadi tidak saja di Indonesia.

Perusahaan rekaman seperti Sony BMG atau Universal pun mengalami kemerosotan sales. Bahkan ritel kaset dan CD internasional sekelas Virgin atau Tower record pun ambruk secara drastis. Saat ini toko musik yang menjual kaset dan CD mendapat tekanan keras dari toko musik digital yang ada di internet (sebetulnya kata toko musik digital ini sedikit tidak tepat karena CD juga sudah dalam format digital). Mereka akhirnya harus menutup tokonya. Memang sangat disayangkan, karena sebetulnya tidak harus menutup tokonya, karena mereka akan tetap dibutuhkan dengan format yang berbeda. Gelombang besar memang telah terjadi dalam dunia musik. Di Indonesia dimulai sejak pertengahan 90-an dengan lahirnya raksasa-raksasa pembajak. Lalu lonjakan besarnya terjadi pada 2000 ketika era penjualan musik diambil alih oleh sistem Ring Back Tone (RBT). Sejak itu penjualan kaset dan CD merosot drastis. Sebelumnya pada 2009 lalu, PT Aquarius Musikindo telah terlebih dahulu menyetop produksi-produksi mereka dalam bentuk kaset. Setelah ringback tone, giliran bisnis full track download menjadi harapan baru industri musik.

Inilah satu-satunya jenis musik digital yang dapat menjadi tambang uang di negeri ini. Bayangkan, sepanjang 2009 keuntungan yang berhasil diraih industri telekomunikasi dan industri musik dari ringback tone terbilang sukses, diperkirakan mencapai lebih dari Rp1,5 triliun. Masa keemasan penjualan album fisik di Indonesia secara resmi hampir ditutup. Awal dekade baru ini merupakan salah satu yang paling buruk dalam sejarah industri rekaman di Tanah Air.

Tercatat hanya sekitar 10 juta keping album legal yang terjual di Indonesia sepanjang 2008, seperti terungkap dari data ASIRI(Asosiasi Industri Rekaman Indonesia). Padahal tahun sebelumnya masih mencatat penjualan 19,4 juta keping dan 2006 sebesar 23,7 juta keping. Penjualan tahun lalu yang belum dirilis ASIRI hingga kini diperkirakan juga mengalami penurunan sekitar 10%-15%. Sebaliknya, angka pembajakan musik fisik di Indonesia justru meningkat gila-gilaan. Jika di 1996 ASIRI mencatat 20 juta keping album bajakan beredar, dua belas tahun kemudian atau di 2008 jumlahnya membengkak fantastis hingga 550 juta keping! Rasio peredaran album musik bajakan dan legal di 2007 bahkan telah mencapai 96%:4%, angka ini disinyalir akan terus bertambah di tahun ini.

Label-label rekaman yang tergabung dalam ASIRI pun mengalami nasib yang sama yaitu tutup. Kondisi ini semakin diperparah oleh lepas tangannya pemerintah dalam upaya penyelamatan industri musik dari ancaman keruntuhan ini. Padahal ketika mencanangkan 2009 sebagai Tahun Industri Kreatif, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sempat berkata bahwa industri musik merupakan industri ekonomi kreatif yang mencatat angka pertumbuhan tercepat di antara jenis industri lainnya, sekitar 18-22%

Evolusi

Seperti hal-hal pembajakan yang telah disebutkan diatas , maka beberapa perusahaan-perusahaan musik memutar otak untuk melakukan evolusi terhadap perusahaan-perusahaannya itu. Mereka harus bisa menyesuaikan permintaan konsumen dan juga menyesuaikan sistem pemasaran mereka sehubungan dengan dunia internet yang kian merebak.

Maka beberapa perusahaan-perusahaan rekaman pada akhirnya lebih memilih untuk berjualan secara online atau Digital Audio. Seperti aquaarius misalnya. Anda pasti bertanya-tanya bagaimana keadaan aquarius sekarang? Setelah mengecek website Aquarius musik langsung yang saya cari melalui google. http://www.aquarius-musikindo.com/index.php, terlihat bahwa perusahaan tersebut memfokuskan penjualannya balik lagi ke Digital Audo. Mereka menyesuaikan tren sekarang ini dengan mempromosikan RBT (ring back tone) yang dapat menjadi nada sambung pribadi di nomer handphone kita. Selain itu Aquarius juga bekerja sama dengan KFC dengan menawarkan paket makan yang disertai pembelian CD dengan harga yang lebih murah.

BERITA BINUS : Selamat Paskah 2014

Tugas 3 – Pembajakan Software, Y2K, dan Digital Audio

PEMBAJAKAN SOFTWARE SEMAKIN MERAJALELA….

MICHAEL A. MIRABITO CHAPTER 4 – COMPUTER TECHNOLOGY: LEGAL ISSUES, Y2K, AND ARTIFICIAL INTELLIGENCE


Pendahuluan

Saat ini kebutuhan akan teknologi, baik itu teknologi informasi maupun telekomunikasi sangat tinggi dari mulai golongan menengah kebawah dan golongan menengah ke atas. Semua individu sangat membutuhkan teknologi untuk mempercepat perkembangan atau meningkatkan pembangunan baik pembangunan individu maupun kelompok. Perkembangan teknologi yang saat ini sangat cepat adalah teknologi telekomunikasi, yang menghadirkan beragam pilihan bentuk teknologi dan kecanggihannya. Namun dibalik itu semua selain dampak positif yang diberikan oleh teknologi modern tersebut, ternyata perkembangan teknologi juga memberikan dampak negatif bagi kehidupan sekarang ini.

Dampak negatif yang timbul dari adanya sejumlah kesempatan yang ada membuat permasalahan – permasalahan hukum yang berkaitan dengan perkembangan teknologi. Hal yang sudah tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi tersebut adalah kasus pembajakan perangkat lunak (software piracy). Pembajakan Software ini terhitung sebagai tindakan kriminal karena merupakan pencurian terhadap kekayaan intelektual.

Pembajakan Software di Indonesia

Bagaimanakah pembajakan software di Indonesia? tercatat hasil kurang menggembirakan untuk urusan pembajakan software di Indonesia. Dari hasil riset yang dikeluarkan IDC terungkap bahwa aktivitas pembajakan software di Tanah Air justru kian melonjak. Dari riset itu Indonesia ditempatkan di posisi ke-12 sebagai negara dengan tingkat pembajakan software terbesar di dunia. Presentase yang dicatat adalah 85%. Dengan kata lain, jika diibaratkan ada 100 software yang digunakan maka 85 di antaranya merupakan software ilegal. Penilaian ini sendiri dilakukan sepanjang 2008 dan baru diumumkan pada bulan Mei 2009. Ini merupakan kegiatan rutin tiap tahun besutan Business Software Alliance (BSA) yang bekerja sama dengan lembaga riset IDC. Tentu presentase 85% itu merupakan prestasi minor bagi Indonesia. Sebab selama dua tahun sebelumnya, Indonesia mencatat hasil lumayan dengan mampu menurunkan presentase pembajakan tersebut, meski hanya turun 1%.

Menurut data yang dirilis IDC, persentase 85% ini mengakibatkan Indonesia ditaksir mengalami kerugian atau potensial loss sebesar US$ 544 juta. Jumlah itu melonjak drastis jika dibandingkan tahun 2007 dimana tingkat pembajakan di Indonesia mencapai 84 persen dan tingkat kerugiannya ditaksir US$ 411 juta. Studi ini sendiri dilakukan terhadap 110 negara di berbagai belahan dunia. Dimana 57 negara di antaranya mengalami penurunan, 36 negara tetap, sementara 16 negara mengalami peningkatan.

Adapun bentuk-bentuk pelanggaran atas suatu software dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu : Pemuatan ke dalam hard disk. Perbuatan ini biasanya dilakukan jika kita membeli komputer dari toko-toko komputer, di mana penjual biasanya meng-instal sistem operasi beserta software-software lainnya sebagai bonus kepada pembeli komputer.

Softlifting, yaitu dimana sebuah lisensi penggunakan sebuah software dipakai melebihi kapasitas penggunaannya. Misalnya membeli satu software secara resmi tapi kemudian meng-install-nya di sejumlah komouter melebihi jumlah lisensi untuk meng-install yang diberikan.

Pemalsuan, yaitu memproduksi serta menjual software-software bajakan biasanya dalam bentuk CD ROM, yang banyak dijumpai di toko buku atau pusat-pusat perbelanjaan, Penyewaan software, Ilegal downloading, yakni dengan men-download software dari internet secara illegal

Mengapa Terjadi Pembajakan?

Ada banyak faktor-faktor yang mendukung terjadinya pembajakan software. Software adalah produk digital yang dengan mudah dapat digandakan tanpa mengurangi kualitas produknya, sehingga produk hasil bajakan akan berfungsi sama seperti software yang asli.

Selain itu, tidak disangkal lagi, satu hal yang mendukung maraknya pembajakan atas software adalah mahalnya harga lisensi software yang asli. Untuk perbandingan, harga lisensi Windows 98 adalah 200 dolar AS, sedangkan software bajakan dapat kita beli hanya dengan harga Rp. 10.000 saja. Andaikata di sebuah kantor mempunyai 20 buah komputer yang menggunakan windows 98, maka biaya yang harus dikeluarkan sebesar 4000 dolar AS atau senilai hampir 40 juta rupiah. Itu hanya untuk sistem operasinya saja, belum termasuk program-program aplikasi lainnya.

Penegakan Hukum Atas Pembajakan Software Komputer

Penegakan hukum atas pembajakan software memang telah dilakukan. Pada bulan September 2001, Microsoft dinyatakan menang dalam kasus pembajakan software dan majelis hakim menghukum PT. Kusumo Megah untuk membayar ganti rugi sebesar 4,4 juta dolar AS. Keputusan ini bagi pihak produsen software dianggap sebagai kemenangan besar melawan pembajakan software di Indonesia sehingga diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang menghargai inovasi dan diharpkan dapat membangkitkan industri software lokal. Pada bulan Oktober tahun yang sama, Microsoft kembali memenangkan perkara yang sama, di mana tergugat yaitu empat penjual computer yaitu PT. Panca Putra Komputindo, HJ Komputer, HM Komputer dan Altex Komputer dihukum untuk membayar ganti rugi sebesar 4,7 juta dollar AS karena terbukti bersalah karena telah meng-install software Microsoft Windows dan Office pada komputer yang mereka jual.

Penegakan hukum di bidang pembajakan software ini memang mempunyai dampak yang baik karena dapat memperbaiki citra Indonesia di mata dunia internasional sehingga dapat meningkatkan investasi asing di bidang software di Indonesia, selain itu bagi pelaku industri software di Indonesia sendiri hal ini dapat membangkitkan semangat mereka untuk lebih berkreasi menghasilkan software-software baru yang mempunyai daya saing yang tinggi, karena tidak takut lagi kalau hasil karyanya akan dibajak oleh orang lain untuk mendapatkan keuntungan ekonomis.

Meskipun edukasi dalam Gerakan Sadar HKI telah dilakukan, akan tetapi menurut penulis, sepertinya hal tersebut tidak akan dapat berjalan dengan baik, pembajakan software sepertinya akan sulit untuk diberantas. Faktor yang paling dominan adalah faktor ekonomis, dimana orang akan cenderung memilih software bajakan yang pasti jauh lebih murah dari software yang berlisensi.

Selain itu pembajakan masih akan tetap berlansung karena bagaimana mungkin para penegak hukum dapat memberantas hal ini jikalau mereka sendiri pada kenyataannya masih menggunakan software bajakan baik di komputer-komputer di kantor polisi, kejaksaan maupun pengadilan, yang dipergunakan untuk keperluan dinas maupun di komputer-komputer pribadi mereka. Jika aparat penegak hukum berkeinginan untuk menegakkan hukum di bidang ini, maka secara tidak langsung mereka harus menuntut dirinya sendiri karena turut pula melakukan pelanggaran. Menurut penulis hal ini tidaklah mungkin, karena itulah sampai dengan saat ini penulis berkeyakinan bahwa permasalahan ini tidak akan pernah berakhir, paling tidak sampai dengan saat di mana semua software yang dipakai oleh aparat penegak hukum terlah berlisensi

Tentang Y2K

Y2K, yang pada tahun 2000 disebut sebagai Millenium Bug, adalah singkatan dari Year 2 Kilo yang artinya tahun 2000. Nah, apanya sih yang aneh dari tahun 2000 lalu? Toh saat itu nggak kiamat kan?

Y2K sendiri adalah kesalahan perhitungan oleh komputer yang disebabkan oleh sistem penyimpanan tanggal yang hanya menyediakan dua digit untuk tahun, dengan asumsi bahwa kedua digit pertama adalah “19″. Sistem ini diterapkan sekitar tahun 60-an dengan tujuan menghemat biaya penyimpanan. Contoh: kalau misalkan tahun 1998, di komputer akan ditulis 98 saja. Kalau 1999, ditulis di komputer 99 saja.

Nah, kalau tahun 2000 gimana? Tentunya akan tertulis 00. Inilah yang menjadi kekhawatiran, karena dalam komputer yang menggunakan chip dengan sistem di atas, 00 dianggap sebagai tahun 1900 (wah, balik satu abad dong..)

Kesalahan ini dikhawatirkan akan menyebabkan bencana besar karena komputer juga digunakan untuk mengatur fasilitas-fasilitas penting seperti PLTN dan pesawat terbang. Sebagai akibatnya banyak perusahaan di seluruh dunia mengadakan pembaharuan di bidang komputer, baik perangkat lunak maupun perangkat keras untuk mencegah hal ini. Walaupun kemudian terbukti bahwa tidak ada bencana besar yang memakan korban jiwa, Y2K menyebabkan cukup banyak kesalahan, misalnya kartu kredit yang ditolak karena masa berlakunya habis tahun 2000, tapi dibaca komputer sebagai 1900.

SEKARANG JAMANNYA DIGITAL AUDIO

August. E. G & Jennifer. H.M.  (2008). Communication Technology Update and Fundamental.  11th Edition.  Focal Press.  Boston.   ISBN: 978-0-240-81062-1.

Merebaknya perkembangan teknologi ternyata sangat berdampak pada dunia musik. Bagaimana tidak? Dengan berkembangnya teknologi seperti adanya internet, hal tersebut memudahkan kita melakukan segala-galanya, termasuk memudahkan pencarian musik/lagu yang kita inginkan dengan mengetikkan keyword pada website tertentu, untuk mendownload lagu yang kita inginkan secara gratis tanpa harus mengeluarkan uang untuk membeli CD dan kaset. Karenanya perusahaan rekaman sekarang ini lebih memilih untuk berjualan Digital Audio, walaupun beberapa perusahan rekaman tersebut tetap mempertahankan untuk menjual CD original , namun ada pula yang terbukti gulung tikar karena berusaha mempertahankan sistemnya berjualan CD dan kaset hanya pada toko-toko.

Tak perlu diragukan lagi perusahaan yang sempat gulung tikar tersebut adalah Aquarius Musik, sebuah ritel perusahaan musik yang berlokasi di Pondok Indah harus menutup usahanya yang dirintis sejak tahun 1995. ondisi ini sangat ironis mengingat pada era 90-an, retail ini tidak pernah sepi pengunjung. Berbagai kaset dan CD dari berbagai macam genre musik pun bisa didapatkan di toko tersebut. Bahkan ritel Aquarius bisa dibilang menjadi semacam ikon dan barometer bagi kebangkitan industri musik saat itu.

Ritel CD Aquarius Pondok Indah bukanlah ritel yang pertama yang gulung tikar. Ratusan ritel kaset dan CD di Indonesia telah tutup selama dua tahun terakhir ini. Salah satunya bahkan sebuah toko yang telah puluhan tahun beroperasi dan menjadi ikon Bandung sebagai kota barometer musik yaitu Aquarius yang terletak di Jalan Dago. Sejak Desember 2009, Aquarius Dago resmi ditutup. Kondisi terpuruk itu tidak hanya dialami Aquarius. Beberapa ritel kaset di mal-mal yang ada di Kota Bandung terpaksa gulung tikar. Menurut Meidi Ferialdi, Marketing Manager Aquarius Musikindo, semakin tingginya harga sewa tempat di sana membuat pihaknya tidak bisa berkompromi lagi dengan biaya yang harus dikeluarkan setiap tahunnya. Ia menjanjikan toko Aquarius akan dibuka kembali di Bandung di tempat yang berbeda, entah kapan tepatnya. Kemerosotan penjualan musik dalam kemasan berbentuk fisik terjadi tidak saja di Indonesia.

Perusahaan rekaman seperti Sony BMG atau Universal pun mengalami kemerosotan sales. Bahkan ritel kaset dan CD internasional sekelas Virgin atau Tower record pun ambruk secara drastis. Saat ini toko musik yang menjual kaset dan CD mendapat tekanan keras dari toko musik digital yang ada di internet (sebetulnya kata toko musik digital ini sedikit tidak tepat karena CD juga sudah dalam format digital). Mereka akhirnya harus menutup tokonya. Memang sangat disayangkan, karena sebetulnya tidak harus menutup tokonya, karena mereka akan tetap dibutuhkan dengan format yang berbeda. Gelombang besar memang telah terjadi dalam dunia musik. Di Indonesia dimulai sejak pertengahan 90-an dengan lahirnya raksasa-raksasa pembajak. Lalu lonjakan besarnya terjadi pada 2000 ketika era penjualan musik diambil alih oleh sistem Ring Back Tone (RBT). Sejak itu penjualan kaset dan CD merosot drastis. Sebelumnya pada 2009 lalu, PT Aquarius Musikindo telah terlebih dahulu menyetop produksi-produksi mereka dalam bentuk kaset. Setelah ringback tone, giliran bisnis full track download menjadi harapan baru industri musik.

Inilah satu-satunya jenis musik digital yang dapat menjadi tambang uang di negeri ini. Bayangkan, sepanjang 2009 keuntungan yang berhasil diraih industri telekomunikasi dan industri musik dari ringback tone terbilang sukses, diperkirakan mencapai lebih dari Rp1,5 triliun. Masa keemasan penjualan album fisik di Indonesia secara resmi hampir ditutup. Awal dekade baru ini merupakan salah satu yang paling buruk dalam sejarah industri rekaman di Tanah Air.

Tercatat hanya sekitar 10 juta keping album legal yang terjual di Indonesia sepanjang 2008, seperti terungkap dari data ASIRI(Asosiasi Industri Rekaman Indonesia). Padahal tahun sebelumnya masih mencatat penjualan 19,4 juta keping dan 2006 sebesar 23,7 juta keping. Penjualan tahun lalu yang belum dirilis ASIRI hingga kini diperkirakan juga mengalami penurunan sekitar 10%-15%. Sebaliknya, angka pembajakan musik fisik di Indonesia justru meningkat gila-gilaan. Jika di 1996 ASIRI mencatat 20 juta keping album bajakan beredar, dua belas tahun kemudian atau di 2008 jumlahnya membengkak fantastis hingga 550 juta keping! Rasio peredaran album musik bajakan dan legal di 2007 bahkan telah mencapai 96%:4%, angka ini disinyalir akan terus bertambah di tahun ini.

Label-label rekaman yang tergabung dalam ASIRI pun mengalami nasib yang sama yaitu tutup. Kondisi ini semakin diperparah oleh lepas tangannya pemerintah dalam upaya penyelamatan industri musik dari ancaman keruntuhan ini. Padahal ketika mencanangkan 2009 sebagai Tahun Industri Kreatif, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sempat berkata bahwa industri musik merupakan industri ekonomi kreatif yang mencatat angka pertumbuhan tercepat di antara jenis industri lainnya, sekitar 18-22%

Evolusi

Seperti hal-hal pembajakan yang telah disebutkan diatas , maka beberapa perusahaan-perusahaan musik memutar otak untuk melakukan evolusi terhadap perusahaan-perusahaannya itu. Mereka harus bisa menyesuaikan permintaan konsumen dan juga menyesuaikan sistem pemasaran mereka sehubungan dengan dunia internet yang kian merebak.

Maka beberapa perusahaan-perusahaan rekaman pada akhirnya lebih memilih untuk berjualan secara online atau Digital Audio. Seperti aquaarius misalnya. Anda pasti bertanya-tanya bagaimana keadaan aquarius sekarang? Setelah mengecek website Aquarius musik langsung yang saya cari melalui google. http://www.aquarius-musikindo.com/index.php, terlihat bahwa perusahaan tersebut memfokuskan penjualannya balik lagi ke Digital Audo. Mereka menyesuaikan tren sekarang ini dengan mempromosikan RBT (ring back tone) yang dapat menjadi nada sambung pribadi di nomer handphone kita. Selain itu Aquarius juga bekerja sama dengan KFC dengan menawarkan paket makan yang disertai pembelian CD dengan harga yang lebih murah.

BERITA BINUS : KONTRIBUSI DOSEN BINUS UNIVERSITY UNTUK PENDIDIKAN DUNIA

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

5 Responses to “Tugas 3 – Pembajakan Software, Y2K, dan Digital Audio”

  1. events says:

    ausgehen in wien Hi folks!

    this was a good read, I’ll tell others this website to others!

  2. konzerte wien Hola dear readers!

    this was a good read, I’ll email this website to others!

  3. you obtained a instead excellent website, Glad I seen it via yahoo.

  4. Hi, brilliant site. I’m very delighted. Fantastic job. The articles are superb. I also run a blog, stop sometimes to me. I hope you enjoy it too.

  5. vitamin b6 says:

    I welcome all comments, but i am possessing problems undering anything you could be seeking to say

Leave a Reply

*